Tampilkan postingan dengan label epidemiologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label epidemiologi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 Februari 2016

DATA EPIDEMIOLOGI DAN INDIKATOR KESEHATAN-2 (dr. Jeini Ester Nelwan, M.Kes) (1)



1. Crude Rates
Crude rates adalah rate dengan mengambil seluruh populasi (tanpa meng-klasifikasikannya, mis. pada kelompok umur, jenis kelamin, dll.). Contoh crude rate adalah birth rate (angka kelahiran kasar) dan death rate (angka kematian kasar). Pada data Latihan 1 didapatkan bahwa total mortality rate adalah 427 / 22.100 = 19,3 kematian per 1.000 penduduk (sebagai konvensi maka denominator yang dipakai adalah populasi pertengahan tahun (mid-year population).

Birth Rate
Birth rate (Angka kelahiran kasar) adalah jumlah kelahiran hidup selama periode waktu tertentu (biasanya satu tahun) dibagi oleh perkiraan populasi pertengahan tahun (mid-year population).
Walaupun birth rate ini merupakan angka (sebagai kesimpulan kasar yang berguna tetapi birth rate ini bukan merupakan ukuran ideal dimana hanya total populasi pada suatu wilayah (kabupaten, propinsi atau negara).
Ukuran lain yaitu fertility rate (angka fertilitas) dianggap lebih tepat karena bisa dihubungkan dengan jumlah kelahiran pada wanita produktif.

Death Rate

Death rate (mortality rate) adalah jumlah kematian selama periode tertentu (biasanya satu tahun) dibagi oleh perkiraan populasi pertengahan tahun (mid-year population). Probabilitas kematian sangat tergantung pada usia sehingga death rate bukanlah suatu indikator kesehatan yang baik.

2. Specific Rates

Specific rates merupakan rate mengambil kelompok yang lebih spesifik dari populasi (mis. kelompok umur, jenis kelamin, dll). Soal Latihan 1, nomor 3b (mortality rate pada kelompok umur 20 – 29 thn dan ≥ 80 thn. merupakan contoh specific rate. Specific rates yang penting lainnya adalah :
-          infant mortality rate (IMR) :

-          perinatal mortality rate :


Ket: Janin/bayi (janin pada hamil aterm (≥ 37 minggu s/d bayi < 1 bulan)

-          neonatal mortality rate :


-          maternal mortality rate :


Specific rates memungkinkan bagi kita untuk untuk melihat perbedaan diantara sub-grup (kelompok umur, jenis kelamin, pekerjaan, dll.) dari data populasi, tetapi kita tidak dapat membandingkan kesimpulan umum antar populasi.

Piramida Penduduk (Population pyramids)

Jumlah penduduk terganutng pada keseimbangan antara birth rate dan death rate [jika angka migrasi (masuk dan keluar) stabil]. Satu metode yang dapat menggambarkan pengaruh kelahiran dan kematian ini adalah dengan menyusun Piramida Penduduk.
Piramida penduduk adalah suatu grafik yang menggambarkan proporsi penduduk pada berbagai kelompok umur dengan menghitung persentasi distribusi penduduk sesuai kelompok umur dibandingkan dengan karakteristik lainnya, mis. jenis kelamin.
Gambar di bawah menunjukkan piramida penduduk tahun 1970 dari Meksiko dan Swedia yang secara visual berbeda (laki-laki sebelah kanan dan perempuan sebelah kiri). Piramida penduduk Meksiko menunjukkan tingginya fertilitas dan proporsi rendah pada usia tua dan sebaliknya Swedia menunjukkan fertilitas rendah dengan proporsi tinggi pada usia tua.

Senin, 06 April 2015

Penyakit Menular Seksual - Gonore


2.1 Definisi Gonore
Gonore adalah suatu penyakit kelamin menular disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae. Yang menginfeksi lapisan dalam uretra, leher rahim, rektum, tenggorokan dan bagian putih mata (konjungtiva). Jika seseorang menderita gonore, maka ia akan mengeluarkan nanah saat buang air kecil. Gonore dapat menyebar melalui aliran darah ke bagian tubuh lainnya, terutama kulit dan persendian. Pada wanita gonore dapat naik ke saluran kelamin dan menginfeksi selaput di dalam panggul sehingga timbul nyeri panggul dan ganggua reproduksi.

2.2 Etiologi
Gonore disebabkan oleh gonokok yang dimasukkan ke dalam kelompok Neisseria, sebagai Neisseria gonorrhoeae. Gonokok termasuk golongan diplokok berbentuk biji kopi dengan lebar 0,8 u, panjang 1,6 u, dan bersifat tahan asam. Kuman ini juga bersifat negatif-Gram, tampak di luar dan di dalam leukosit, tidak tahan lama di udara bebas, cepat mati pada keadaan kering, tidak tahan suhu di atas 39 derajat C, dan tidak tahan zat desinfektan.

2.3 Epidemiologi
            Insidensi gonore telah menurun sejak tahun 1980-an terutama karena meningkatnya kampanye tentang risiko PMS. Saat ini, kasus gonore rata-rata 400 ribu sampai 1 juta per tahun di Amerika Serikat. Mayoritas kasus-kasus didapatkan dari laporan klinik-klinik kesehatan setempat. Insidens sering terdapat pada penderita laki- laki homoseksual. Prostitusi merupakan sumber infeksi utama, terutama di negara-negara berkembang.
            Penyakit ini menyerang semua umur, ras dan berbagai tingkat sosio-ekonomi, tetapi beberapa kelompok individu lebih berisiko tinggi dibanding lainnya. Remaja dan dewasa muda merupakan kelompok risiko tinggi dimana Iebih dari 80% kasus dilaporkan setiap tahun pada kelompok usia 15 – 29 tahun. Pada kelompok usia ini yang banyak berganti pasangan seksual, tidak menggunakan kondom, adalah kelompok dengan risiko terbesar.
            Laporan WHO pada tahun 1999 secara global terdapat 62 juta kasus baru gonorrhea, 27,2 juta diantaranya terjadi di Asia Selatan dan Asia Tenggara. Di Amerika Serikat pada tahun 2004 terdapat 330.132 kasus penyakit infeksi bakteri Neisseria gonorrhoeae, dengan rata–rata 113,5 kasus per 100.000 penduduk. Di Jepang terdapat peningkatan kasus infeksi oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae yang sudah resisten terhadap Ciprofloxacin, dari 6,6% kasus pada tahun 1993-1994 menjadi 24,4% kasus pada tahun 1997-1998.
            Di Indonesia, data dari Departemen Kesehatan RI pada tahun 1988, angka insidensi gonorrhea adalah 316 kasus per 100.000 penduduk.Beberapa penelitian di Surabaya, Jakarta, dan Bandung terhadap PSK wanita menunjukkan bahwa prevalensi gonorrhea berkisar antara 7,4 – 50%.
            Keberadaan gonorrhea di masyarakat ibarat gunung es, hanya diketahui sebagian kecil di permukaan saja namun sesungguhnya lebih banyak kasus yang tidak terungkap datanya.

2.4 Masa inkubasi dan diagnosa
Diagnosis Gonore ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan mikroskopik terhadap nanah dimana ditemukan bakteri penyebab gonore. Jika pada pemeriksaan mikroskopik tidak ditemukan bakteri, maka dilakukan pembiakan di laboratorium.
            Gambaran klinik dan perjalanan penyakit pada perempuan berbeda dari pria.Hal ini disebabkan perbedaan anatomi dan fisiologis alat kelamin pria  dan perempuan.pada laki-laki Masa inkubasi penyakit gonore adalah  3-5 hari.sedangkan gonore pada perempuan kebanyakan asimptomatik sehingga sulit untuk menentukan masa inkubasinya.

2.5 Gejala dan tanda
            Gejala pada orang yang menderita gonore biasanya timbul dalam waktu 2- 7 hari setelah infeksi bakteri. Awalnya pria penderita gonore merasakan tidak nyaman pada uretra, lalu beberapa jam kemudian diikuti oleh nyeri ketika buang air kecil disertai keluarnya nanah. Rasa ingin kencing sering muncul dan keadaan menjadi semakin buruk ketika penyakit ini menyebar ke uretra bagian atas. Lubang penis tampak merah dan membengkak.
            Pada penderita wanita, gejala awal dapat timbul dalam waktu 7-21 hari setelah terinfeksi. Penderita wanita sering tidak menunjukkan gejala selama beberapa minggu atau bulan dan diketahui menderita penyakit ini hanya setelah mitra seksualnya tertular. Apabila tibul gejala, maka biasanya bersifat ringan. Meskipun demikian, beberapa penderita menunjukkan gejala yang berat, seperti desakan untuk buang air kecil, nyeri ketika buag air kecil, keluarnya caira dari vagina, dan demam. Infeksi dapat menyerang leher rahim, rahim, saluran telur, indung telur, uretra dan rektum. Serangan ini menyebabkan nyeri pinggul atau nyeri ketika melakukan hubungan seksual. Nanah yang keluar bisa berasal dari leher rahim, uretra, atau kelenjar di sekitar lubang vagina.
            Wanita dan pria homoseksual yang melakukan hubungan seksual melalui anus (lubang dubur) dapat menderita gonore pada rektumnya. Penderita merasakan tidak nyaman di sekitar anus dan dari rektumnya keluar cairan yang mengandung bakteri. Daerah disekitar anus tampak merah dan kasar, fesesnya terbungkus oleh lendir dan nanah. Pada pemeriksaan dengan anaskop akan tampak lendi dan cairan pada dinding rektum penderita. Melakukan hubungan seksual melalui mulut (seks oral) dengan orang penderita dapat menyebabkan gonore pada tenggorokan (faringitis gonokokal). Biasanya infeksi ini tidak menimbulkan gejala, tetapi kadang-kadang menyebabkan nyeri tenggorokan dan gangguan menelan.
            Apabila cairan yang terinfeksi mengenai mata, maka dapat terjadi infeksi mata luar (konjungtivitis gonore). Bayi baru lahir pun dapat  terinfeksi gonore dari ibunya selama proses persalinan sehingga terjadi pembengkakan pada kedua kelopak matanya dan matanya keluar nanah. Pada orang dewasa, dapat pula terjadi gejala yang sama, tetapi sering hanya 1 mata yang terkena. Selanjutnya, apabila infeksi ini tidak diobati dapat terjadi kebutaan.

Tanda dan Gejala  Lain:
Pada wanita
Pada wanita, gejala awal kadang-kadang sangat ringan hingga keliru dengan infeksi kandung kemih atau infeksi vagina.
Gejala bisa meliputi:
- Sering buang air kecil dan sakit
- Anus gatal, nyeri dan terjadi pendarahan
- Cairan vagina abnormal
- Pendarahan vagina abnormal selama atau setelah berhubungan seks atau antara   periode haid
- Alat kelamin terasa gatal
- Perdarahan haid tidak teratur
- Perut bagian bawah terasa sakit
- Perdarahan haid tidak teratur
- Kelenjar bengkak dan nyeri pada pembukaan vagina (kelenjar Bartholin)
- Hubungan seksual terasa menyakitkan
- Yang jarang terjadi, sakit tenggorokan dan penyakit mata menular

Gejala pada pria
Pada pria, gejala biasanya cukup jelas, tetapi beberapa orang mengalami gejala ringan atau tanpa gejala, dan tanpa disadari dapat menularkan infeksi gonore untuk pasangan seksnya.
Gejala bisa meliputi:
- Cairan penis abnormal (terlihat seperti susu pada awalnya, kemudian kuning, lembut, dan berlebihan, kadang-kadang darah kebiruan)
- Sering buang air kecil dan sakit
- Anus gatal, nyeri dan terjadi pendarahan
- Yang jarang terjadi, sakit tenggorokan dan penyakit mata menular

Gejala-gejala gonore yang telah menyebar dari kelamin ke daerah lain meliputi:
- Ruam
- Radang sendi atau arthritis
- Tendon meradang

2.6 Cara penularan
Gonore merupakan salah satu jenis penyakit menular seksual yang transmisinya dapat terjadi melalui kontak genital-genital, genital-anorektal, oro-genital atau oro-anal, atau melalui transmisi ibu ke anak saat proses kelahiran.

2.7 Pencegahan dan pengobatan
2.7.1 Pencegahan
a.       Cara terbaik untuk mencegah gonore adalah dengan tidak melakukan hubungan seks atau melakukan hubungan seks hanya dengan seseorang yang tidak terinfeksi atau yang hanya melakukan hubungan seks dengan anda.
b.      Kondom dapat mengurangi risiko terkena gonore jika digunakan dengan cara yang benar setiap kali anda berhubungan seksual.
c.       Mencuci alat kelamin, buang air kecil, atau douching setelah berhubungan seksual akan mencegah setiap penyakit menular seksual. 
d.      Menghindari hubungan seksual sampai pengobatan antibiotik selesai.
e.        Sarankan juga pasangan seksual kita untuk diperiksa guna mencegah infeksi lebih jauh dan mencegah penularan.
f.       Menyarankan wanita tuna susila (WTS) agar selalu memeriksakan dirinya secara teratur, sehingga jika terkena infeksi dapat segera diobati dengan benar.

2.7.2 Pengobatan
Mengobati gonore biasanya dengan suntikan sefriakson intramuskuler (melalui otot) atau dengan pemberian antibiotik melalui mulut selama 1 minggu. Penderita yang dirawat dirumah sakit, umumnya bila telah mengalami gonore yang menyebar melalui pembuluh darah atau infuse. Para ahli melansir bahwa bakteri gonore saat ini mulai resisten dan tidak lama lagi akan kebal terhadap berbagai antibiotik. Oleh karena itu, cara terbaik untuk mengurangi risiko penularan gonore adalah dengan memakai kondom ketika berhubungan seksual dan mengkonsumsu 2 jenis antibiotik yang berbeda untuk menangani penyakit ini.
Beberapa pengobatan yang dapat digunakan adalah sebagai berikut :
            Cefixime (Suprax) Dosing Interactions Contraindications Precautions  Dewasa 400 mg PO once for uncomplicated genitourinary or rectal infection Anak <45 kg: 8 mg/kg PO once; not to exceed 400 mg >45 kg: Administer as in adults  Coadministration of aminoglycosides increase nephrotoxicity; probenecid may increase effects of cefixime
            Ceftriaxone (Rocephin) Dosing  Interactions  Contraindications  Precautions  Dewasa  125-250 mg IM once; 125 mg if uncomplicated genitourinary, rectal, or pharyngeal infection; 250 mg for PID 1 g IV/IM q24h for DGI 1-2 g IV q12h for gonococcal meningitis or endocarditis 1 g IM once for gonococcal conjunctivitis; consider single saline lavage as well. Anak 25-50 mg/kg IV/IM as single dose for conjunctival infection (maximum 125 mg) 25-50 mg/kg/d IV/IM for 7 d for scalp abscess, sepsis, arthritis 25-50 mg/kg/d IV/IM for 10-14 d for suspected or known meningitis 125 mg IM once for children <45 kg with uncomplicated urethritis, cervicitis, pharyngitis, or rectal infection >45 kg: Administer as in adults.
            Spectinomycin (Trobicin) Dewasa 2 g IM once. Anak 40 mg/kg IM once Dosing Interactions Contraindications Precautions.
            Silver nitrate Dosing Interactions Contraindications Precautions Dewasa Not used for this indication Anak 2 gtt OU into conjunctival sac once immediately after birth (no later than 1 h after delivery).
            Erythromycin (Erygel) Dosing  Interactions  Contraindications  Precautions  Dewasa  Not used for this indication. Anak0.5-inch (1.25 cm) ribbon OU into conjunctival sac once immediately after birth (no later than 1 h after delivery). Jika gonore telah menyebar melalui aliran darah, biasanya penderita dirawat di rumah sakit dan mendapatkan antibiotik intravena (melalui pembuluh darah, infus).


DAFTAR PUSTAKA 
Bustan,MM.1997.Epidemiologi Penyakit Menular. Jakarta : Rineka Cipta
CDC. Gonorrhea : The Fact. (online) diakses Sabtu, 30 Maret 2013 pukul 13.50 Wita             www.cdc.gov/std/gonorrhea/
Dalil SF, Maksa WIB, Zubier F, Judanarso J, editor. 2005. Infeksi menular seksual.            Jakarta: Fakultas Kedokteran UI
Kesehatan Masyarakat. Epidemiologi Penyakit Gonore (online) diakses Senin,1 April        2013 http://www.kesehatanmasyarakat.info/
Malik SR, Amin S, Anwar AI. Gonore. In: Amiruddin MD, editor. 2004. Penyakit            Menular Seksual. Makassar: Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin
Marwali Harahap.Penyakit Menular Seksual.Jakarta:Gramedia
Shifwa. 2011. Gonorhoe, (Online) diakses Sabtu, 30 Maret 2013 pukul 14.00 Wita             http://id.shvoong.com/medicine-and-health/dermatology/





Selasa, 28 Oktober 2014

Definisi - Definisi Epidemiologi (Arti terminology 3) (5)

36. Higiene Perorangan – Dalam bidang peberantasan penyakit menular maka upaya untuk mellindungi diri terhadap penyakit menjadi tanggung jawab individu dalam menjaga kesehatan mereka dan mengurangi penyebaran penyakit, terutama penyakit yang ditularkan melalui kontak langsung.
Upaya – upaya yang dapat dilakukan oleh setiap orang adalah :

1. Selalu mencuci tangan setelah kencing dan buang air besar dan sebelum makan dan minum
2. jauhkan tangan dan peralatan yang kotor atau barang-barang lain yang dipakai untuk keperluan WC dari mulut, hidung, mata, telinga, alat kelamin dan luka
3. Hindari pemakaian alat-alat untuk makan dn minum tidak bersih begitu juga hindari pemakaian handuk, saputangan, sisir, sikat rambut dan pipa rokok yang kotor.
4. jauhi percikan dari orang lain pada saat mereka batuk, bersih, tertawa atau berbicara.
5. Cuci tangan setelah menyentuh penderita dan memegang barang-barang milik penderita
6. Jaga kebersihan tubuh dengan setiap saat mandi secara teratur dengan air bersih dn sabun.

37. Angka Prevalensi - Jumlah keseluruhan orang yang sakit yang menggambarkan kondisi tertentu yang menimpa sekelompok penduduk tertentu pada titik waktu tertentu (Point Prevalence), atau pada periode waktu tertentu (Period Prevalence), tanpa melihat kapan penyakit itu mulai dibagi dengan jumlah penduduk yang mempunyai resiko tertimpa penyakit pada titik waktu tertentu atau periode waktu tertentu.

38. Karantina – Pembatasan aktivitas yang ditujukan terhadap orang atau binatang yang telah kont ak dengan orang/binatang yang menderita penyakit menular pada masa penularan (lihat Kontak). Tujuannya adalah untuk mencegah penularan penyakit pada masa inkubasi jika penyakit tersebut benar-benar diduga akan terjadi. Ada dua jenis tindakan karantina yaitu :

1. Karantina Absolut atau Karantina Lengkap : ialah pembatasan ruang gerak terhadap mereka yang telah terpajan dengan penderita penyakit menular. Lamanya pembatasan ruang gerak ini tidak lebih dari masa inkubsai terpajang penyakit menular tersebut. Tujuan dari tindakan ini adalah untuk mencegah orang ini kontak dengan orang-orang lain yang belum terpajan.

2. Karantina yang dimodifikasi : Suatu tindakan selektif berupa pembatasan gerak bagi mereka yang terpajan dengan penderita penyakit menular. Biasanya pertimbangannya adalah perkiraan terhadap adanya perbedaan tingkat kerentanan terhadap bahaya penularan. Modifikasi ini dilakukan untuk menghadapi situasi tertentu. Sebagai contoh misalnyamelarang anak-anak tertentu masuk sekolah.

Pengecualian terhadap anak-anak yang sudah dianggap kebal terhadap tindakan-tindakan tertentu yang ditujukan kepada anak-anak yang rentan. Pembatasan yang dilakukan terhadap annggota militer pada pos-pos atau asrama-asrama militer. Kegiatan karantina yang dimodifikasi meliputi :

- Surveilans Individu, yaiut pengamatan medis yang ketat dilakukan terhadap individu yang diduga terpajan dengan sumber penyakit agar timbulnya gejala penyakit dapat segera diketahui tanpa membatasi ruang gerak mereka.

- Segregasi, yaitu pemisahan sebagian kelompok (orang atau binatang) dari induk kelompoknya dengan tujuan dan pertimbangan khusus agar dapat dilakukan pengamatan dengan baik; pemisahan anak-anak yang rentan dari anak-anak yang sudah kebal; pembuatan perbatasan penyangga yang sanitair untuk melindungi mereka yang belum terinfeksi dari mereka yang sudah terinfeksi.

39. Repelan – adalah bahan kimia yang digosokkan di kulit, pakaian atau tempat lain dengan maksud :

1. Mencegah serangga menggigit/menyerang
2. Mencegah larva cacing masuk melalui kulit

40. Pelaporan Penyakit – Adalah laporan resmi yang ditujukan kepada pejabat kesehatan yang berwenang yang berisikan kejadian penyakit yang menimpa orangatau binatang.
Penyakit yang menimpa manusia dilaporkan ke Dinas Kesehatan setempat sedangkan penyakit yang menyerang binatang/ternak dilaporkan kepada Dinas Pertanian/Dinas Peternakan. Sedangkan penyakit-penyakit hewan tertentu (200 jenis) yang juga menyerang hewan maupun manusia dilaporkan baik kepada Dinas Kesehatan maupun Dinas Pertanian/Dinas Peternakan.
Pejabat Kesehatan yang berwenang akan menrbitkan daftar dari penyakit-penyakit yang harus dilaporkan sesuai dengan keperluan (lihat Pelaporan Penyakit Menular).

Laporan penyakit ini juga meliputi penyakit-penyakit yang diduga mempunyai arti penting dalam bidang kesehatan masyarakat, biasanya penyakit-penyakit yang memerlukan tindakan investigasi atau yang memerlukan tindakan pemberantasan tertentu jika seseorang mendapatkan infeksi dri daerah tertentu sedangkan laporan penyakitnya dilaporkan di daerah lain, maka pejabat kesehatan yang menerima laporan kasus tersebut hendaknya memberitahukan pejabat kesehatan dari daerah dimana infeksi tersebut didapat.
Hal ini penting dilakukan terutama jika diperlukan pemeriksaan kontak (contact person), pemeriksaan makanan atau jika diperlukan pemeriksaan air atau brang-barang lain yang diduga sebagai sumber infeksi.
Notifikasi ini diperlukan tidak hanya terhadap penyakit-penyakit yang rutin harus dilaporkan tetapi juga terhadap penyakit-penyakit yang timbul KLB/Wabah walaupun penyakit tersebut tidak masuk dalam daftar penyakit yang wajib dilaporkan (lihat Wabah). Pelaporan khusus yang diperlukan dalam IHR (International Health Regulation) tercantum dalam Pelaporan Penyakit Menular.

41. Reservoir (dari penyakit infeksi) – Setiap orang, binatang, arthropoda, tumbuh-tumbuhan, tanah atau barang-barang (atau kombinasi dari keduanya) dimana bibit penyakit biasanya hidup dan berkembang biak serta hiduonya sangat tergantung pada inang tempatnya menumpang. Bibit penyakit tersebut biak sendemikian rupa sehingga dapat ditularkan kepada inang lain yang rentan.


42. Resistensi – Merupakan Resultante dari mekanisme tubuh yang dapat menghalang-halangi atau mencegah invasi, multipliksi dari bibit penyakit kedalam tubuh atau mencegah terjadinya kerusakan jaringan yang diakibatkan oleh racun yang dikelurkan oleh bibit penyakit.
Resistensi Inheren – Adalah kemapuan tubuh bertahan terhadap serangan bibit penyakit yang tidak tergantung kepada kekebalan spesifik baik humoral maupun seluler; daya tahan ini biasanya daladm bentuk struktur anatomis dan fisiologis yang menjadi cirri individu yang didapatkan secara genetis baik yang bersifat permanen ataupun temporer (lihat Imunitas) (Synonim : Imunitas nonspesifik)

43. Rodentisida – Suatu bahan kimia yang dipergunakan untuk membunuh rodensia, umumnya setelah ditelan oleh rodensia tersebut.

44. Sumber Infeksi – Orang, binatang, barang/bahan dari mana bibit penyakit ditularkan pada orang lain. Sumber infeksi harus dibedakan dengan Sumber Kontaminasi yaitu sebagai contoh septic tank yang meluap mencemari sumber air atau juru masak yang terinfeksi mencemari salad yang disajikan.

45. Surveilans Penyakit – Berbeda dengan surveilans terhadap manusia (lihat Karantina 2), surveilans penyakit adalah kegiatan yang dilakukan secara terus menerus dengan melihat seluruh aspek dari muncul dan menyebarnya suatu penyakit agar dapat dilakukan penanggulangan yang efektif. Didalamnya meliputi pengumpulan secara sistematik dan evaluasi dari :

1. Laporan Kesakitan dan Kematian
2. Laporan khusus dari hasil investigasi atau dari kasus perorangan
3. Isolasi dan identifikasi dari bahan infeksius oleh laboratorium.
4. Data tentang ketersediaan dan pemakaian serta dampak dari pemakaian vaksin dan toxoids, globulin imun, insektisida dan bahan-bahan yang digunakan dalam pemberantasan.
5. Informasi yang berkaitan dengan tingkat imunitas dari segmen masyarakat tertentu.
6. Data epidemiologis yang dianggap relevan.

Laporan yang berisikan rangkukman dari data-data diatas hendaknya dibuat dan disebar luaskan kepada mereka yang membutuhkan yang ingin mengetahui hasil dari kegiatan surveilans.
Prosedur diatas berlaku umum di semua tingkatan secara local maupun internasional.
Surveilans Serologis – Kegiatan yang mengidentifikasikan pola infeksi masa lalu dan sampai saat ini dengan menggunakan pemeriksaan serologis.

46. Susceptible (Rentan) – Seseorang atau binatang yang tidak memiliki daya tahan yang cukup untuk melawan bibit penyakit tertentu untuk mencegah dirinya tertulari jika mereka terpajan dengan bibit penyakit tersebut.

47. Tersangka – Tersangka dalam pemberantasan penyakit menular dimaksudkan adalah kesakitan yang diderita seseorang dimana gejala dan perjalanan penyakitnya megidentifikasikan bahwa mereka kemungkinan menderita sesuatu penyakit menular tertentu.

48. Penularan Penyakit Infeksi – Mekanisme dimana penyakit infeksi ditularkan dari suatu sumber atau reservoir kepada seseorang. Mekanisme tersebut adalah sebagai berikut :

1. Penularan Langsung; mekanisme ini menularkan bibit penyakit langsung dari sumbernya kepada orang atau binatang lain melalui “Port d’entre”. Hal ini bisa melalui kontak langsung seperti melalui sentuhan, gigitan, ciuman, hubungan seksual, percikan yang mengenai conjunctiva, selaput lendir dari mata, hidung atau mulut pada waktu orang lain bersin, batuk, meludah, bernyanyi atau bercakap (biasanya pada jarak yang kurang dari 1 meter)

2. Penularan Tidak Langsung

a. Penularan Melalui Alat – Alat yang terkontaminasi seperti mainan anak-anak, saputangan, kain kotor, tempat tidur, alat masak atau alat makan, instrumen bedah atau duk; air, makanan, susu, produk biologis seperti darah, serum, plasma, jaringan organ tubuh, atau segala sesuatu yang berperan sebagai perantara dimana bibit penyakit di “angkut” dibawa kepada orang/binatang yang rentan dan masuk melalui “Port d’entre” yang sesuai.

Bibit penyakit tersebut bisa saja berkembang biak atau tidak pada alat tersebut sebelum ditularkan kepada orang/binanat yang rentan.

b. Penularan Melalui Vektor – (i) Mekanis : Cara mekanis ini meliputi hal-hal yang sederhana seperti terbawanya bibit penyakit pada saat serangga merayap ditanah baik terbawa pada kakinya atau pada belalainya, begitu pula bibit penyakit terbawa dalam saluran pencernaan serangga.
Bibit penyakit tidak mengalami perkembangbiakan. (ii) Biologis : cara ini meliputi terjadinya perkembangbiakan (propagasi/multiplikasi), maupun melalui siklus perkembangbiakan atau kombinasi kedua-duanya.
(“cyclopropagative”) sebelum bibit penyakit ditularkan oleh serangga kepada orang/binatang lain.
Masa inkubsi ekstrinsik diperlukansebelum serangga menjadi infektif. Bibit penyakit bisa ditularkan secara vertical dari induk serangga kepada anaknya melalui telur (“transovarium transmission”); atau melalui transmis transtadial yaitu Pasasi dari satu stadium ke stadium berikutnya dari siklus hidup parasit didalam tubuh serangga dari bentuk nimfe ke serangga dewasa.
Penularan dapat juga terjadi pada saat serangga menyuntikkan air liurnya waktu menggigit atau dengan cara regurgitasi atau dengan cara deposisi kotoran serangga pada kulit sehingga bibit penyakit dapat masuk kedalam tubuh manusia melalui luka gigitan serangga, luka garukan. Cara penularan seperti ini bukanlah cara penularan mekanis yang sederhana sehingga serangga yang menularkan penyakit dengan cara ini masih bisa disebut sebagai vektor penyakit.

3. Penularan Melalui Udara – Penyebaran bibit penyakit melalui “Port d’entre” yang sesuai, biasanya saluran pernafasan. Aerosol berupa berupa partikel ini sebagian atau keseluruhannya mengandung mikro organisme. Partikel ini bisa tetap melayang-layang diudara dalam waktu yang lama sebagian tetap infektif dan sebagian lagi ada yang kehilangan virulensinya.
Partikel yang berukuran 1 – 5 micron dengan mudah masuk kedalam alveoli dan tertahan disana.

Percikan (droplet) dan partikel besar lainnya tidak dianggap sebagai penularan melalu udara (airborne); (lihat Penularan Langsung)

a. “Droplet Nuclei” – Biasanya berupa residu ukuran kecil sebagai hasil penguapan dari cairan percikan yang dikeluarkan oleh inang yang terinfeksi.
“Droplet Nuclei” ini bisa secara sengaja dibuat dengan semacam alat, atau secara tidak sengaja terjadi di labortorium mikrobiologi dan tempat pemotongan hewan, di tempat perawatan tanaman atau di kamr otopsi.
Biasanya “Droplet Nuclei” ini bertahan cukup lama di udara.

b. Debu – Partikel dengan ukuran yang berbeda yang muncul dari tanah (misalnya spora jamur yang dipisahkan dari tanah oleh udara atau secara mekanisme), dari pakaian, dari tempat tidur atau kutu yang tercemar.

49. Kewaspadaan Universal - (lihat di bawah judul isolasi), merupakan kewaspadaan universal terhadap darah dan cairan.

50. Virulensi – Adalah tingkat patogenisitas dari bibit penyakit yang digambarkan dengan “Case Fatality Rate” dan atau dengan kemampuan dari bibit penyakit menembus dan merusakkan jaringan tubuh dari inang.

51. Zoonosis – Infeksi atau penyakit infeksi yang ditularkan secara alamiah oleh binatang bertulang belakang (vertebrata) kepada manusia. Dia bisa termasuk golongan enzootic atau epizootic (lihat Endemi dan Epidemi).